Minggu, 15 Mei 2016

Novel Remaja - Home Sweet Home Part 1 Oleh Claudia Widi A.R

Home Sweet Home
Karya : Claudia Widi A.R


Part : 1 (one)
Home Sweet Home

Setiap orang selalu ingin mempunyai rumah idaman mereka masing-masing, rumah yang nyaman,tenang dan damai, jauh dari hiruk pikuk kota yang membosankan. Sama halnya dengan pasangan suami istri yang baru saja menikah ini sebut saja namanya Dani dan Cintya. Setelah sebulan sejak pernikahan mereka, mereka ingin membeli rumah yang jauh dari kota tempat mereka tinggal, mereka juga tidak ingin berlama-lama menumpang dirumah orang tua Cintya, dengan alasan mereka ingin hidup mandiri.
“ Hmm. “ Dani menghela nafas panjang, sambil menyenderkan tubuhnya di kursi kekuasaannya. Ia berfikir rumah seperti apa yang akan ia beli dan akan ia tempati bersama istrinya tersebut. Tiba-tiba lamunan akan rumah barunya tersebut pecah akibat panggilan dari seseorang.
“ Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?. “ Kata seseorang mengagetkan lamunan Dani, ia masuk dari balik pintu.
“ Oh, Siska! Saya sampai kaget. Lain kali ketuk pintu dulu sebelum memasuki ruangan saya. “
“ Maaf Pak Manager, saya mohon maaf atas kelancangan saya yang dengan tiba-tiba masuk mengagetkan anda. Sekali lagi saya minta maaf. “
“ Oke, kamu saya maafkan. Saya hanya sedikit mengantuk, jadi bisa tidak kamu membantu saya membuatkan seecangkir kopi dan membawa makanan ringan. Maaf saya menyuruh kamu bukannya office girl. “
“ Ohh tidak apa-apa Pak Dani, memang sudah tugas saya sebagai sekretaris bapak yang mengharuskan saya membantu anda. “ Siska tersenyum kearah Dani, wajah cantiknya yang sendu sejenak menghapuskan kegelisahan dalam benak Dani.
“ Astaga!!. “ Dani terkejut sambil menepuk pipinya sendiri.
“ Ada apa Pak?. “ Siska bertanya sambil keheranan.
“ Tidak apa-apa, saya hanya teringat istri saya di rumah. “ Jawab Dani sambil tertawa.
“ Baik, kamu boleh pergi!. “ Dani menunjuk ke pintu menyuruh Siska agar segera melakukan pekerjaannya.
Siska pun keluar dari ruangan Dani, dan menuju kearah pantry tempat ia biasa membuat kopi untuk bosnya. Dani hanya membolak-balikkan bolpoinnya sambil menunggu pesanannya datang. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara telfon berdering dan langsung mengangkatnya.
“ Halo!. “
“ Halo, sayang?. “
“ Ada apa?. “
“ Kamu kapan pulang?. “
“ Mungkin nanti malam, jadi nggak usah ditungguin ya. “
“ Hmmm, kamu udah dapat info tentang rumah yang mau kita beli nggak?. “
“ Belum. “
“ Hmm. “
“ Nanti aku cari info deh, pokoknya kamu tenang aja ya, sayangkuuu. “
“ Janji?. “
“ I’m promise. “
“ Yaudah, bye. “
Cintya menutup telfonnya. Dengan lesu Dani memandang telfon yang sambungannya sudah terputus itu, sebenarnya dalam hatinya ia ingin sekali cepat-cepat pindah dari rumah mertuanya itu, tapi sampai saat ini ia belum menemukan rumah yang pas untuk ia beli. Dani memandang jam dinding yang tergantung di sudut ruangan dekat dengan ranjang yang berisi stick golfnya.
“ Kenapa Siska lama sekali. “ Dani mulai resah menunggu sekretarisnya itu, kemudian tak lama ia menyusul Siska ke pantry tapi tidak seorangpun ia temui disana. Dani melihat sekeliling dapur, tidak ada bekas orang yang membuat kopi disini, yang ada hanya bungkus mie goreng diatas kompor gas, dan kertas brosur usang yang sudah lengket terkena susu kental manis. Lalu ia mengambil brosur itu dan mulai membaca isinya, disitu tertulis dijual sebuah villa dengan harga murah dan letaknya jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari kemacetan dan terletak di dekat desa yang asri. Dani membaca brosur itu dengan seksama memperhatikan gambarnya, dan melihat ukuran villa itu yang cukup besar, di tambah lagi dengan adanya danau buatan di depan villa itu yang menambah suasana nature di tempat itu. Nampaknya ia mulai menyukai villa tersebut, dan tertarik ingin membelinya.
∞∞∞∞∞∞∞
“ Ting Tong!!!. “
“ Ya, sebentar!. “ Cintya mengambil jaketnya dan berlari-lari kecil kearah pintu. Ia memutar knop dan membuka pintu rumahnya itu, didapatinya senyum suaminya dari ambang pintu. Cintya membalas senyuman suaminya dengan senyuman pula. Dani memang mahir mengubah suasana hati wanita yang disayanginya itu, ia dapat membuat Cintya bahagia di waktu-waktu yang tidak dapat di tebak oleh Cintya.
“ Kamu lebih cocok jadi artis daripada pengusaha muda. “ Cintya mempersilahkan suaminya itu masuk sambil tetap tersenyum menggoda Dani.
“ Kamu tau, aku sudah mengundurkan diri dari dunia keartisan, akan lebih baik mengurus perusahaan milik papa dan sudah kewajibanku sebagai pewaris tunggal perusahaan tersebut. “
“ Ehmm, wajahmu memang sangat cocok bila kau tetap menjadi artis. Tapi mau bagaimanapun dirimu aku tetap menyukaimu sebagai DANI yaitu suamiku. “ Cintya makin melebarkan senyumannya sambil melepas Blazzer yang dikenakan suaminya itu.
“ Kenapa kamu mau menikah denganku?. “ tanya Cintya lagi.
“ Pertanyaan bodoh, mungkin karena aku mencintaimu dan aku tidak tau alasannya. “ Dani menghempaskan tubuhnya di sofa, dilihatnya istrinya sedang membuatkan teh untuknya. Kemudian ia menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang, Dani tidak tau entah mengapa ia sangat merindukan istrinya tersebut dan dalam kesehariannya ia tidak dapat melepas wajah Cintya dari benaknya.
“ Aku rasa, aku sudah menemukan rumah yang cocok untuk kita. “ Kata Dani dengan tetap memeluk Cintya. Cintya berhenti mengaduk teh untuk suaminya itu dan menoleh kearah Dani.
“ Iya gitu?. “ Matanya begitu berbinar-binar mendengar ucapan suaminya itu.
“ Ya, coba kamu lihat ini. “ Dani mengeluarkan secarik kertas brosur tadi dari dalam saku celananya dan menunjukkannya pada Cintya. Cintya memperhatikan dengan seksama isi dari brosur yang menjual villa besar dengan harga murah itu.
“ Mungkin kita hanya perlu sedikit renovasi. “ Senyum Dani menghiasi wajah tampannya, ia berusaha meyakinkan istrinya untuk tetap membeli villa yang dirasa sudah pas untuknya. Cintya mengerutkan dahinya, raut wajah kurang puas tergambar di wajahnya.
“ Tapi meskipun villa ini di jual dengan harga murah, aku tidak terlalu menyukai letaknya yang tidak strategis, kenapa villa ini mesti di bangun di hutan?. “
“ Villa ini meskipun di bangun di area hutan tapi dekat dengan perumahan warga desa sayang. “ Dani masih berusaha membujuk Cintya agar ia menyetujui untuk membeli villa itu.
“ Kamu kerasukan apa sih, jelas-jelas letaknya yang tidak strategis, masa kamu mau beli villa untuk kita di area hutan sih!!. “ suara Cintya terdengar meninggi, tapi yang dituju masih tidak bergeming untuk memikirkan keputusannya. Dani tetap pada pendiriannya, ia tetap akan membeli villa itu dan mau tidak mau mereka harus pindah secepatnya.
“ Pikirkan dulu baik-baik semua keputusanmu, aku tau kamu tidak mau merepotkan orangtuaku dengan tetap menumpang di rumah mereka, tapi aku mohon cari rumah yang lain yang dekat dengan keluargaku dan keluargamu, carilah rumah yang layak untuk kita tinggali. “ Cintya menggenggam jemari tangan suaminya itu dengan harapan suaminya mau membatalkan rencana untuk membeli villa itu.
“ Tidak sayang, aku sudah terlanjur suka dengan villa ini, meski letaknya di luar kota, aku janji akan tetap membawamu berkunjung ke rumah orangtuamu disini. “ Dani melepas genggaman tangan Cintya dan beranjak menuju kamar mandi, Cintya hanya termenung mendengar keputusan suaminya itu. Meskipun ia sangat menyayangi suaminya tapi Cintya heran mengapa kali ini suaminya begitu keras kepala tidak seperti biasanya, terkadang suaminya yang selalu mengalah terhadap keputusan Cintya, tapi tidak untuk kali ini, Dani tetap bersikukuh ingin membeli villa itu.

Bersambung

Novel Remaja - Home Sweet Home Part 2 Oleh Claudia Widi A.R

Home Sweet Home
Karya : Claudia Widi A.R

Part : 2 (two)
Home Sweet Home
  “ Kamu sudah siap berangkat?. “ Tanya Dani kepada Cintya dengan senyum mengembang disudut bibirnya, ia mengangkat koper-koper besar kedalam bagasi mobilnya.
“ Ya. “ Dengan lesu Cintya mengikuti arah langkah kaki suaminya yang terlebih dahulu memasuki mobil. Hari ini mereka akan resmi membeli villa itu, Cintya tidak menyangka bahwa ia akan pergi dari rumah orangtuanya secepat ini.
“ Hati-hati dijalan Dan, jaga istrimu baik-baik. “ Kata Mama Cintya di balik pagar rumah mereka.
“ Iya Ma, tenang saja. “ Dani menghidupkan mobilnya dan segera pergi dari rumah itu, Cintya dari dalam mobil hanya melambaikan tangannya kearah Mama dan Papanya yang sudah tertinggal jauh dibelakang.
Setelah perjalanan melelahkan itu, sore harinya mereka telah sampai di villa tersebut. Dani merasa sangat lega akan keputusannya membeli villa itu, suasana di area villa itu sangat hening dan mencekam yang membuat Cintya merinding, tapi ia melihat suaminya begitu senang dengan kehadiran mereka disini, Cintya begitu heran mengapa suaminya mau membeli villa yang disekelilingnya sangat gelap dengan tumbuh-tumbuhan liar dan tampak tidak terurus itu.
“ Selamat datang. “ Sapa suara lembut seorang wanita yang berjalan kearah Cintya dan Dani. Wanita itu tersenyum kearah Cintya.
“ Anda siapa?. “ Cintya penasaran mengapa di villa ini ada seorang perempuan muda menyambutnya.
“ Saya pemilik lama villa ini. “
“ Ohh, boleh kami masuk?. “ Tanya Dani.
“ Tentu saja. “ Wanita itu masih tersenyum ramah kepada mereka berdua, Cintya hanya menekuk wajahnya tanda ia tidak menyukai apapun yang bersangkutan dengan villa ini.
Wanita muda itu mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di ruang tamunya. Sementara pandangan Cintya masih menerawang mengelilingi setiap sudut bangunan tua tersebut.
“ Bagaimana? Anda suka dengan villa ini?. “ Wanita ramah itu bertanya pada Dani.
“ Ya, dari awal aku memang menyukainya dan aku ingin secepatnya membeli villa ini. “ Dani tersenyum kearah wanita itu.
“ Anda dapat memiliki semuanya villa ini beserta isinya, tapi ada 1 hal yang ingin saya beritahukan pada anda. “ Wanita itu mulai memasang mimik wajah serius.
“ Apa itu?. “ Cintya yang sedari tadi hanya diam kini mulai angkat bicara.
“ Sebelum saya dan suami saya mendapatkan rumah yang baru ijinkan saya untuk tetap tinggal disini sementara waktu, saya mohon. “ Wajah wanita itu terlihat memelas membuat Dani tidak tega.
“ Baiklah. “ Dani menyetujui permohonan wanita tersebut, Cintya membelalakkan matanya dan dengan sigap mencubit kecil pinggul Dani yang membuatnya mengaduh kesakitan.
“ Aww, ada apa sayang?. “ Tanya Dani dengan nada pelan.
“ Kamu ini gimana sih, masa main iya-iya aja tanpa meminta persetujuan aku dulu, enak banget dia numpang dirumah kita, rumah kita ini kan privacy place milik kita. “ Bisik Cintya. Rupanya wanita itu mendengar percakapan Cintya dan Dani.
“ Ehem, selain itu villa ini mempunyai 4 kamar ukuran king size yang pertama ada di depan, kamar kedua dan ketiga letaknya di tengah dan kamar terakhir letaknya dibelakang, saya dan suami saya akan tinggal dikamar belakang dan dapat dijamin kami tidak akan merepotkan kalian berdua. “ Wanita itu tersenyum kembali kearah Cintya dan Dani.
“ Ooh tidak merepotkan kok. “ Dani membalas senyuman wanita itu tetapi berbeda dengan Cintya yang memasang tingkah tidak menyukai kehadiran si wanita, ia hanya mengangguk sambil menyisikan poninya keatas tanpa menengok kearah wanita itu dan lebih memilih mengedarkan pandangannya kearah lain.
Setelah semua surat-surat tanah dan rumah telah selesai dipindah tangankan kepada Dani, pasangan suami istri ini mulai merapikan semua barang-barang mereka, memasukkannya kedalam rumah baru mereka yang berukuran besar itu. Cintya yang kelelahan mencoba bersantai ria didepan ruang keluarga sambil menyetel TV dan memakan snack kesukaannya, sementara Dani masih sibuk merapikan barang-barang. Tiba-tiba ada seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih dan berambut gondrong lewat di depan Cintya yang sedang menonton TV. Cintya yang keheranan memanggil lelaki bule yang mengenakan pakaian safari ala artis reggae itu.
“ Excusme, who are you?. “ Tanya Cintya menepuk bahu lelaki itu dari belakang.
“ I’m Nani’s husband ,don’t worry i can speak Indonesian. “ Jawab pria itu.
“ Ohh, jadi nama pemilik lama villa ini Nani dan kamu suaminya?. “
“ Ya, saya suaminya. “ Dengan pandangan kosong dan nada dingin pria itu meninggalkan Cintya yang keheranan. Cintyapun menggerutu
“ Dasar, nggak sopan!. “
∞∞∞∞
“ Kamu kenapa sayang, kok mukanya ditekuk gitu? Kan kita udah punya rumah baru harusnya kamu senang dong. “ Dani duduk dipinggiran bed disamping istrinya, ia mengusap rambut istrinya dan berusaha membuat istrinya tidak badmood.
“ Aku sebal!!!. “ Jawab Cintya.
“ Kenapa?. “
“ Itu. Laki-laki bule itu, dia nggak sopan banget sih, main nyelonong aja di depan aku, tanpa permisi tanpa ngomong sepatah kata pun. “
“ Ooh maksudmu Albert? Suaminya Nani? Biarkan saja, selama dia tidak mengganggu kita ya don’t worry, lagian kalau misalkan aku masuk kerja nanti setidaknya ada yang menemanimu dirumah. Kalau ada laki-laki disini kan aku juga jadi tenang sayang, setidaknya ada yang menjagamu. Iya kan?. “ Dani mengembangkan senyum manisnya kearah Cintya dan merangkul pundak istrinya tersebut.
“ Ya, whatever. “ Cintya dengan wajah muram melepas rangkulan suaminya itu dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya, ia membelakangi suaminya dan segera tidur.
“ Huffh., “ Dani menarik nafas dan menggaruk belakang lehernya, ia kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mandi barang sebentar saja, Dani ingin menghilangkan penat dan panas di sekeliling kepalanya.
“ Tap...tap..tap. “ suara langkah kaki Dani menyusuri ruang tengah rumahnya melewati kamar pasangan Nani dan Albert, tidak tampak dari mereka kebisingan dan Dani menduga bahwa mereka sudah tertidur. Ia melanjutkan langkahnya, maklum di rumah sebesar itu hanya ada tiga kamar mandi yang letaknya agak jauh dari kamarnya. Perlahan Dani memasuki kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi berukuran besar itu, kamar mandinya sangat mewah dan lengkap dengan bath up yang besar, shower, handuk yang tertata rapi di pojok ruangan, beberapa peralatan mandi dan lampu hias yang mewah diatasnya, tidak lupa sepasang lilin putih aroma terapi yang tersimpan di samping bath up itu. Dani menyalakan lampu tersebut dengan memutar alat seperti knop yang terpasang di dinding, ia sengaja menyalakan lampu itu dengan tingkat cahaya yang rendah sehingga suasana dalam kamar mandi hanya terlihat remang-remang. Ia membuka bajunya satu persatu dan menyalakan shower. Air mulai membasahi tubuhnya, tangannya meraih shampo yang terletak di rak kecil di dekatnya.
“ Hah!!! Ada apa ini !! “ Dani terlihat bingung ketika lampu di kamar mandi tersebut tiba-tiba mati dan langsung hidup lagi dan sedetik kemudian mati lagi begitu seterusnya, sampai Dani merasa ada sesuatu yang tidak beres di rumah ini, ia mengambil handuk dan mengurungkan niatnya untuk mandi, perasaan tidak wajar mulai menyelimuti tubuh Dani hingga ke tengkuknya. Kemudian ia keluar dari kamar mandi dan bergegas menuju kamarnya.
∞∞∞∞
Cahaya matahari pagi menembus jendela kamar Dani dan Cintya. Cintya dengan mata yang menyipit mencoba menutupi matanya yang silau dengan tangannya, di lihatnya keluar jendela ternyata hari sudah mulai siang, terdengar suara anak-anak desa bermain di danau buatan di depan rumahnya. Hari minggu pagi memang menyenangkan anak-anak ini, Cintya tersenyum melihat mereka bermain air di danau itu, ia kemudian menengok kesamping di lihatnya suaminya tidur di sampingnya tanpa mengenakan baju.
“ Sayang..” bisik Cintya di telinga suaminya. Dani tidak menggubris ucapan istrinya dan masih terlelap mimpi.
“ Sayang!! Baanguuunn!!!” Bentak Cintya sambil menggoncangkan tubuh suaminya.
“ Astaga... iya iya aku bangun. “ Dani membuka matanya dan mencoba bangun dari tidurnya, kepalanya masih sangat pening karena ia masih lelah dan mengantuk.
“ Kamu nggak bisa ya, lebih romantis lagi banguninnya?. “ Tanya Dani dengan sedikit protes.
“ Romantis? Apaan!! Kamu nggak bakalan bangun kalau pakai cara yang halus.” Cintya memalingkan wajahnya dari pandangan Dani, ia mencoba tidak melihat keadaan suaminya saat ini.
“ Hey, kamu kenapa, kok nggak mau lihat aku?. “ Tanya Dani lagi sambil memegang kepala Cintya dengan lembut. Cintya tidak menjawab.
“ Ooh aku tau, kamu terpesona abs-ku ini ya? Aku sixpack kan?. “ Dani mencoba menggoda Cintya dengan membuka selimut di tubuhnya, senyumnya yang lucu membuat Cintya tidak tahan untuk segera tertawa terbahak-bahak.
“ Hahah, mandi sana!!. “ perintahnya.
“ Kriiingg..kriinggg. “ ponsel Dani yang terletak di meja kecil disamping tempat tidurnya berbunyi beberapa kali, lalu Dani segera mengangkat telefon itu.
“ Halo.. ada apa Pa?.”
“ Emm, baik Pa, saya akan segera kesana nanti sore.”
“ Oh iya Pa, saya usahakan. Nanti akan saya konfirmasikan lagi. Oke baik Pa. “
“ Klik. “ Dani memutuskan sambungan telepon itu dan memandang wajah Cintya untuk beberapa saat, wajahnya yang tadi terlihat ceria kini mulai luntur dan berubah menjadi muram.
“ Ada apa sayang?. “ tanya Cintya memegang pundak suaminya.
“ Aku akan pergi sore ini, Papa-ku di kantor memintaku untuk menemaninya bertemu dengan koleganya, mungkin aku akan keluar kota untuk beberapa hari. “
“ Tapi kan kamu baru saja minta cuti untuk pindahan? Kenapa sekarang sudah mulai kerja lagi?. “
“ Maafkan aku Cin, aku sudah terlanjur menyetujuinya dan keputusanku tidak bisa ditarik ulang. “ Dani berkata dengan penuh pengharapan kepada istrinya tersebut agar istrinya tidak marah atau tersinggung atas keputusannya, ia memasang wajah prihatin dan matanya yang sipit dan bening memandang istrinya yang mengeluh dan melakukan aksi protesnya untuk beberapa lama.
“ Kamu nggak kenapa-kenapa kan aku tinggal sendiri di rumah? Nanti biar aku menyuruh Mama kamu untuk menginap disini dan menemanimu barang beberapa hari kedepan. “ Dani dengan senyumnya yang mengembang mencoba menghibur istrinya.
Cintya yang sedari tadi uring-uringan mencoba mengerti keadaan suaminya tersebut, ia lalu meledek suaminya “ Huh.. dasar Boyband!! Sibuk adalah sarapanmu. “
Dani tersenyum dan menimpali ucapan istri tercintanya “ Dasar Ratu sejagat, maunya harus diturutin, manja lagi haha. “
Dani dan Cintya tertawa bersamaan.

Bersambung

Novel Remaja - Home Sweet Home Part 3 Oleh Claudia Widi A.R

Home Sweet Home
Karya : Claudia Widi A.R

Part : 3 (Three)
Home Sweet Home
 
Sebelum Dani berangkat untuk urusan kerjanya ia memutuskan untuk mencari siapa pemilik pertama villa yang ditempatinya tersebut, ia sangat penasaran dengan asal-usul rumah itu dan mengapa rumah sebesar itu dijual dengan harga miring, ia tidak memberitahu hal ini pada Cintya terlebih dahulu agar tidak membuat istrinya itu cemas.
“ Hati-hati di jalan ya sayang. “ Cintya melambaikan tangannya setelah ia mebetulkan dasi di kerah baju suaminya itu, Cintya menatap kepergian suaminya dengan perasaan yang tidak biasa. Setiap harinya ia melihat suaminya begitu tampan dengan kemeja kantoran yang lengannya digulung keatas dan dasi yang serasi dengan warna baju suaminya tersebut. Tapi bukan itu yang kini dipikirkan Cintya, melainkan ada hal lain yang tidak dapat ia jelaskan.
setelah berpamitan pada kistrinya, Dani bergegas pergi ke sebuah perumahan warga di desa kecil di samping villanya itu, ia menanyakan kepada beberapa warga yang sedang duduk-duduk di warung tentang siapa pemilik pertama villanya tersebut.
“ Permisi Pak, boleh saya bertanya sebentar?. “ Dilihatnya beberapa pasang mata menatap aneh kearah Dani.
“ Emm, Bapak tau tidak siapa orang yang mendirikan villa di area hutan disamping desa ini?.” Dani bertanya lagi kepada Bapak-bapak yang duduk sambil bermain catur di warung kecil tersebut.
“ Ooh, pemilik pertamanya namanya Pak Budi, tuh, tinggalnya dekat dengan mushola yang pagarnya warna hijau mas.” Jawab salah seorang dari Bapak-bapak yang mengenakan peci itu.
“ Oh terimakasih mas, saya pamit dulu, maaf mengganggu. “ Dani mengangkat telapak tangan kanannya seraya memberi salam kepada para warga tersebut.
“ Yuk, mari mas. “ Kata Bapak yang memakai peci itu, diiringi dengan tatapan aneh para pria lainnya.
Kemudian tanpa membuang waktu lagi Dani menuju rumah Pak Budi yang diketahuinya sebagai pemilik pertama villa itu.
“ Selamat sore. “ Sapa Dani kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman rumahnya yang penuh dengan daun pohon mangga yang berguguran. Wanita itu menghentikan pekerjaannya dan mengurai senyum kepada Dani.
“ Ooh iya, selamat sore, maaf cari siapa ya?. “ Tanya wanita itu sambil meletakkan sapu lidinya ditanah.
“ Apa benar ini rumah Pak Budi? Yang membuat villa di area hutan itu?. “
Seketika wajah wanita itu berubah menjadi pucat pasi, peluh menetes di rahangnya.
“ i-iya benar, ini rumah Pak Budi. Ada perlu apa ya dengan suami saya?.”
“ Maaf Bu, saya tidak punya banyak waktu, saya harus bicara sebentar dengan Pak Budi perihal villa itu. “
“ Ooh, kalau begitu mari masuk, nak. “
Dipersilahkannya Dani masuk kedalam rumah yang tidak terlalu besar itu, rumah dengan cat warna hijau dan lantai berwarna putih susu, di depannya ada pohon mangga yang tumbuh kokoh, sehingga rumah itu nampak rindang, semula Dani nampak ragu atas rumah yang dilihatnya sangat bertolak belakang dengan villa yang begitu megah dan nampak sangat klasik itu. Kemudian Dani duduk di sofa berwarna merah hati itu, ia melihat sekeliling ruangan ketika tiba-tiba Ibu-ibu tadi mengejutkannya.
“ Pak, ini ada yang mau ketemu sama Bapak. “ Di pegangnya lengan lelaki tua yang memakai kemeja kotak-kotak putih dan sedikit botak, ia nampak kebingungan. Sambil berjalan kearah Dani, pria tua itu tampak ketakutan dan depresi, pandangannya kosong dan tak terarah.
“ Saya buatkan minum dulu ya.” Ibu itu tersenyum kearah Dani dan dibalas juga dengan senyuman hangat dari Dani. Ketika Ibu tadi sudah menghilang dibalik tirai biru tua, Dani mulai menanyai perihal villa tersebut kepada Bapak yang ada di depannya.
“ Apakah benar Bapak yang telah membuat rancangan villa yang saya tempati ini?. “Tanpa basa-basi Dani bertanya sambil menatap dalam-dalam mata Pak Budi tapi yang yang ditanyai malah diaam saja, seperti orangyang sedang kebingungan.
“ Bapak mendengar saya tidak? Apakah Bapak tahu tentang apa yang terjadi dengan villa itu?. “
Pak Budi tetap diam saja tanpa menggubris omongan Dani, Dani mulai merasa khawatir, dalam benaknya ia beranggapan bahwa orang ini sudah gila.
“ Apakah Bapak tahu tentang sedikit hal di dalam villa tersebut? Saya mohon jawab pertanyaan saya, saya minta bantuan Bapak kali ini. “ Dani mulai nampak putus asa.
“ Yasudah jika Bapak tidak mau menjawab pertanyaan saya, lebih saya pergi. “ ia mulai emosi dan tidak bisa mengendalikannya, saat Dani hendak beranjak dari tempat duduknya, Bapak itupun memegang tangan pemuda itu dengan kuat.
“ Tunggu dulu nak, duduklah!” Kemudian Dani duduk kembali atas perintah Pak Budi.
“ Saya pasti mengetahui semua hal tentang villa itu, karena saya dulu adalah seorang arsitek handal yang merancang bangunan villa itu.” Lelaki itu menghembuskan nafasnya dan mulai kembali bercerita.
“ Dulu saya adalah seorang arsitek yang merancang rumah-rumah mewah dan megah milik artis ataupun pejabat-pejabat terpandang di Ibukota, tetapi dipuncak keberhasilan saya, saya ingin sekali memiliki ketenangan dan kedamaian, maka saya putuskan untuk pindah ke daerah ini agar jauh dari hiruk-pikuk kota dan saya putuskan juga untuk membangun villa hasil karya saya sendiri. “
Dani mendengarkan Pak Budi dengan serius dan tak memalingkan tatapannya dari mata lelaki tua itu.
“ Tetapi pada waktu itu saya tidak punya lahan untuk membangun rumah maka saya membeli separuh lahan di area hutan tersebut dari pemda setempat. Para warga desa menggunakan lahan itu untuk pemakaman, tetapi karena saya sudah menyukai tempat itu maka saya putuskan agar tanah pemakaman itu diratakan oleh tanah dan saya membangun villa diatasnya, awalnya para warga tidak setuju dan hendak membakar villa tersebut tetapi apa boleh buat, surat kepemilikan lahan sudah berada ditangan saya. Tetapi setelah cukup lama tinggal disana dengan istri saya, saya merasa depresi akan kejadian-kejadian aneh di villa itu, makadari itu saya putuskan untuk menjual villa itu pada wisatawan asing dan istrinya itu.”
“ Kejadian aneh seperti apa yang Bapak alami.? “ Dani bertanya lagi. Kali ini lebih intim.
“ Ya seperti piring-piring berterbangan, peralatan dapur jatuh berserakan, muncul noda-noda darah di dinding, suara-suara tangisan memilukan dan sebagainya. Tapi asal kamu tahu tentang rahasia tempat itu, bahwa siapapun lelaki yang melihat villa itu pasti akan langsung menyukainya dan tertarik membelinya, villa itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang-orang tertentu, tapi tidak bagi wanita.”
“ Maksud Bapak?.”
“ Hmm, contohnya lelaki bule itu, ia sangat tertarik sekali dengan villa itu, dan membelinya dengan harga mahal, tetapi tidak dengan istrinya, istrinya malah menganggap villa itu gelap dan menyeramkan. Jadi intinya villa itu akan nampak indah dimata orang-orang tertentu yang dipilihnya.”
Deg.. sontak jantung Dani berdetak sangat cepat dari ritme biasanya, ia teringat akan keinginannya untuk membeli villa itu tetapi dilarang oleh istrinya, peluh mulai menetes di kening Dani, ketika Ibu-ibu datang membawa nampak berisi minuman.
“ Lalu apa yang terjadi dengan pasangan suami-istri tersebut Pak?. “ Dani bertanya kembali.
“ Saya tidak tahu banyak, yang saya tahu dari warga desa bahwa lelaki bule itu ditinggal pergi oleh istrinya dan setahun kemudian ia meninggal di kamar mandi villa itu nak.” Pak Budi tidak berani menatap wajah Dani yang harap-harap cemas, ia hanya terdiam sambil kedua tangannya berpagut saling memegangi jemari masing-masing.
“ Maaf lama nak, Ibu tadi malah lupa mau membuatkan kamu minum haha, maaf nak. “ Ibu itu tertawa sambil meletakkan secangkir kopi di depan Dani. Kemudian Dani langsung meminumnya dan berpamitan untuk pergi dari rumah Pak Budi itu.
∞∞∞∞
Suara musik dari dalam mobil Dani, tak bisa menghilangkan konsentrasinya pada kejadian tadi mengenai villa miliknya. Dani dengan sedikit tegang mengendorkan dasi di lehernya sedangkan tangan kanannya tetap memegang kemudi setir, di lihatnya jalan raya yang penuh dengan lalu lalang mobil dari berbagai arah, terasa sangat panas di dalam mobilnya hingga ia harus menghidupkan AC dan menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan. Ia masih belum bisa melupakan kata demi kata yang diingatnya.
“ Cintya!!!” Panggil seorang wanita paruh baya, tergopoh-gopoh sambil membawa koper kedalam villa milik Cintya.
“ Mama!!” Cintya berlari kecil kearah wanita paruh baya yang ternyata adalah Mama-nya itu.
“ Mama kapan kesini?. “
“ Kemarin sore Mama berangkat, soalnya Mama dapat telfon dari Dani, dia menyuruh Mama untuk menemani kamu disini selama dia kerja. “
“ Mama pasti capek, aku akan buatkan Mama teh. “ Cintya mengangkat koper yang berisi pakaian milik Mama-nya tersebut kedalam villanya.
“ Bu, ini kunci mobilnya. “ Kata seorang supir memberikan kunci mobil pada Mama Cintya.
“ Oh iya, saya lupa, terimakasih Pak No. “
“ Sama-sama Bu. “
Kemudian Cintya dan Ibunya memasuki ruang keluarga di villa yang berukuran besar itu.
“ Besar juga Cin. “
“ Iya sih Ma. “
“ Tapi masalahnya kenapa villa sebagus ini ada di area hutan?. “ Mama Cintya menatap putrinya dengan tatapan tajam seolah-olah ingin tahu apa rahasia yang tersimpan dari villa ini. Cintya menghela nafas panjang dan mulai bercerita tentang keadaan villa-nya dan kemauan keras suaminya untuk tetap membeli villa ini.
“ Suami-mu memang keras kepala. “ Ibu Cintya meneguk secangkir teh yang diberikan putri semata wayangnya itu sambil menyandarkan bahunya di sofa.
∞∞∞∞
Hujan deras mulai menggenangi seluruh pelosok kota, Dani menatap tetesan hujan yang mengalir dari jendela ruangan-nya, otaknya tidak mampu lagi berfikir secara jernih. Ia terus saja memikirkan keadaan istri tercintanya di rumah. Ia tidak dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaannya sehingga ia memutuskan untuk menelfon istrinya di rumah.
“ Halo Dan...ada apa?. “ Suara Cintya memecah keheningan di dalam ruangan Dani.
“ Kok sepi?. “ Cintya mulai bersuara kembali.
“ Nggak apa-apa kok sayang, aku Cumaaa emmm.. aku Cuma...”
“ Cuma apa Dan? Aku tutup ya?. “
“ Ehh, jangan!! Aku Cuma sedikit khawatir sama kamu. “ Dani membelalakkan matanya saat apa yang dia ucapkan malah ditertawakan oleh Cintya.
“ Hahaha, sudah dulu ya.”
Tittt...titt..titt.. sambungan telefon mulai terputus. Dani menatap handphone-nya dengan heran, baru kali ini dia mendapati istrinya yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit cuek dengannya dan baru kali ini ia mendapati istrinya memanggil namanya dengan sebutan “ Dan “. Tak lama kemudian Dani menelfon istrinya itu sekali lagi dan Cintya mengangkat telfonnya.
“ Halo?. “
“ Cin? Cintya?.”
“ Ada apa sayang?.” Suara lembut Cintya seakan membuat hati Dani tenang.
“ Kenapa tadi kamu matikan telfonku?. “ Tiba-tiba Dani teringat hal tadi dan langsung menanyakannya pada Cintya.
“ Telfon apa? Kamu kan baru aja telfon. “ Jawab Cintya datar.
“ Tadi aku telfon.. ahh sudahlah lupakan, kamu sedang ada di rumah kan?. “
“ Ya. “
“ Sama Mama? Mama sudah datang kan?. “
“ Iya sayang, kamu nggak perlu khawatir.” Senyum Cintya mengembang ketika mendengar suara suaminya yang sedikit panik itu.
“ Heuuhh, aku akan pulang lusa. Tunggu ya.”
“ Oke. Bye. “
“ Bye. “
Dani meletakkan handphonenya diatas meja kerjanya dan mengambil sebuah foto yang dibingkai dengan indah. Foto Cintya terpampang dalam bingkai foto yang dipegang Dani, entah mengapa ia merasa ada suatu hal buruk yang akan terjadi dan ia menyesal tidak bisa melindungi istrinya saat ini.

Bersambung

Novel Remaja - Home Sweet Home Part 4 END Oleh Claudia Widi A.R

Home Sweet Home
Karya : Claudia Widi A.R

Part : 4 (Four)-end
Home Sweet Home

Malam semakin larut Cintya dan Ibunya mulai tertidur dalam satu kamar setelah melihat acara di Televisi. Saat itu Cintya ingin sekali buang air kecil, ia lalu turun dari ranjangnya dan mulai meraba-raba kolong tempat tidur untuk mencari sendal yang biasa ia kenakan. Tak lama ia menuju kamar mandi yang agak jauh dari kamarnya, perasaan takut mulai menerjang seluruh tubuhnya, udara malam menerpa lehernya yang jenjang sehingga membuatnya merinding dan menutup erat-erat tubuhnya dengan jaket.
“ Ahhh. “ Keluh Cintya saat ia tahu bahwa ia harus melewati kamar pasangan suami istri aneh tersebut dan kamar kosong yang menurutnya menyeramkan.
“ Deg. “ Jantung Cintya berdegub kencang, tapi ia tidak mendapati suara dari dalam pasangan suami istri tersebut. Pintu kamar pasangan suami istri itu terbuka lebar dan tidak ada seorangpun yang Cintya dapati di dalam kamar tersebut, Cintya heran dan mulai bertanya-tanya, kemana perginya suami-istri itu malam-malam begini.
“ Kreekkk..” Cintya terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka dari kamar sebelah, ia mulai berlari dari kamar pasangan suami-istri tersebut menuju kamar mandi. Suasana didalam kamar mandi sedikit menenangkan hati Cintya, bau wangi lavender dari lilin aromateraphy yang terpasang di pojok ruangan menyebar sampai kedalam penciuman Cintya. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam tertangkap mata Cintya, ia lalu melihat kearah pintu kamar mandi yang sebagian diatas pintu itu dipasang kaca transparan sehingga ia bisa melihat kearah luar kamar mandi. Cintya tersentak kaget saat ada sebuah tangan dengan darah disekelilingnya dengan kuku yang panjang berusaha menggapai pintu kamar mandi, ia tersentak kebelakang dan ketakutan saat melihat pemandangan didepannya. Lelaki bule yang menumpang di villanya kini seakan-akan berubah menjadi zombie, pakaian safari yang biasa ia kenakan kini berubah menjadi compang-camping, wajahnya hancur dan rambutnya berantakan. Wajah lelaki itu mengeluarkan gelembung-gelembung nanah seakan-akan melepuh terkena zat kimia, matanya sudah tidak terlihat yang terlihat hanyalah sebuah lubang besar yang hitam di matanya. Tangannya yang berlumuran darah terus menggapai dan berusaha membuka pintu kamar mandi tersebut sehingga menimbulkan noda darah di kaca pintu kamar mandi yang transparan tersebut.
“ Aaaarggghhtt” Cintya menjerit sekuat tenaganya sambil memegang knop pintu kamar mandi yang terus didorong dari arah luar, ia berusaha menahan agar pintu itu tidak terbuka. Pintu kamar mandi itu terus bergoncang-goncang karena desakan dan dorongan dari luar sehingga menimbulkan suara berderit yang cukup berisik, keringat dingin mulai membasahi dagu Cintya yang masih menahan goncangan dari luar. Suara-suara seperti helaan nafas yang memburu mulai terdengar di telinga Cintya diselingi suara-suara aneh lainnya. Benda-benda disekeliling Cintya dengan tiba-tiba mulai berjatuhan seperti botol shampo, sabun mandi dan peralatan lainnya dan dengan tiba-tiba pula benda itu melayang-layang di udara. Cintya juga mendengar suara-suara aneh itu dari arah dapur, suara itu terdengar seperti ada orang yang memainkan peralatan masaknya menjatuhkan piring-piring, panci, wajan dan lain-lainnya. Cintya mulai tidak kuat lagi menahan dorongan dari luar tersebut sehingga ia melepaskan tangannya dari knop pintu dan menghempaskan tubuhnya kebelakang, tidak sengaja ia menyenggol lilin kecil aromateraphy tersebut dan jatuh terduduk. Lilin itu padam dan suasana menjadi gelap tapi ia masih bisa merasakan nafas yang memburu dari lelaki yang sudah menjadi zombie itu.
“ Apa yang kamu inginkan dariku? Kamu sudah mati!! Kamu sudah mati!!” Cintya berteriak sekencang-kencangnya sambil memejamkan mata dan menutup telinganya dengan tangan rapat-rapat. Ia berusaha bangun dan berjalan meski kekuatannya melemah, ia meraba-raba dan berhasil menemukan pintu keluar tetapi lelaki itu memegangi kaki Cintya sehingga Cintya kesulitan bergerak.
“ Lepaskan!! Mama tolong Cintya!!!. “ Cintya kembali berteriak dan mendorong tubuhnya agar kakinya segera lepas dari cengkraman lelaki itu, tarikan dari Cintya daan cengkraman yang begitu kuat membuat celana piyama miliknya sobek di bagian bawah dan betisnya terluka, terkena goresan kuku yang panjang dan tajam. Cintya berlari kearah kamarnya sambil tetap menutup telinga karena suara berisik itu dapat membuatnya gila, ditambah lagi ada suara tangisan wanita yang memilukan yang membuat bulu kuduknya merinding.
Blamm.... ditutupnya pintu kamar itu rapat-rapat.
“ Ada apa Cin?. “ Mama Cintya terbangun dan mengucek matanya.
“ Kita harus pergi dari tempat ini Ma, bagaimanapun caranya!!” Cintya terlihat panik.
“ Ya ampun, kenapa kaki kamu Cin? Bilang sama Mama ada apa ini? suara berisik apa ini Cintya!!!” Cintya tidak mempedulikan Mamanya dan masih dalam keadaan panik ia mencari-cari handphonenya. ia mulai putus asa dan menarik Mamanya keluar kamarnya.
Blammm...Cklekk.. seluruh pintu dan jendela villa itu tiba-tiba terkunci rapat dengan sendirinya. Cintya dan Mamanya yang kebingungan mencari-cari cara keluar dan melihat sekeliling ruangan. Mereka mulai berlari-lari mencari jalan keluar tetapi mereka dikejutkan oleh banyak hal, suara berisik itu terus mengganggu dan membuat telinga Cintya berdengung. Mata Cintya mulai dikejutkan oleh berbagai hal aneh dan sosok-sosok menakutkan, sosok menyeramkan yang duduk di sofa ruang keluarga dengan baju serba putih dan rambut yang panjang sedang merunduk dan sosok-sosok bayangan anak kecil berlari-lari dengan tertawa-tawa di sekelilingnya.
“ Prangg!!!” sebuah benda tumpul yang keras menghantam kepala Cintya sampai berdarah, ia pun jatuh terduduk sambil memegang kepalanya.
“ Cintya!!! Kamu nggak kenapa-napa kan nak?.” Mama Cintya mulai panik saat anaknya meringis kesakitan sambil terus memegang kepala bagian depannya yang menegeluarkan banyak darah. Cintya dengan sekuat tenaga berusaha bangun dari tempatnya dan tetap menggenggam tangan Mamanya untuk mencari jalan keluar. Cintya dan Mamanya berjalan kearah kamar kosong yang sudah lama tidak terpakai itu.
“ Aku rasa disini aman Ma. “ Cintya mencoba mendobrak pintu kamar kosong itu dan ia berhasil membukanya. Ia dan Mamanya memasuki kamar kosong itu tetapi belum sempat ia menenangkan kelelahannya, pintu kamar itu seakan-akan didorong oleh sesuatu yang kuat dari luar, nafas yang memburu itu sangat dikenali oleh Cintya. ia dan Mamanya tetap bertahan untuk menahan pintu itu.
“ Kita harus mencari jalan keluarnya Ma. “ disela-sela ketakutannya, berulangkali Cintya mendengar suara Hanphonenya berdering berkali-kali, tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu, ia juga tidak tahu handphone-nya berada dimana, yang ia fikirkan hanya keselamatan hidupnya dan Mamanya.
Braakkk..braakk..brakk.. suara pintu itu didobrak dari luar, Cintya tetap menahan pintu itu dari dalam dengan tubuhnya.
“ Ma, coba lihat itu, Mama harus mendorong lemari kayu itu untuk menahan pintu ini. sementara aku menahannya, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berlama-lama menahan beban ini. “
“ Baik. “ Mama Cintya mulai mendorong lemari tua yang usang dan berdebu itu yang ternyata cukup berat. Setelah berhasil mendorongnya kearah pintu, Cintya mulai terkapar dan kepalanya terasa pusing sekali. Cintya mencoba membuka matanya yang terkatup, ia melihat dibelakang lemari yang telah dipindahkan oleh Mamanya terdapat jendela yang cukup besar , akal sehatnya mulai bekerja.
∞∞∞∞
“ Shiittt!!!” Dani melempar handphone-nya kearah kaca jendela didepannya, sehingga kaca itu pecah menjadi puingan-puingan kecil. Perasaannya benar-benar tidak enak dan bisa dikatakan sangat buruk, ia terus memikirkan istrinya yang tak kunjung mengangkat telfonnya.
“ Ada apa ini?. “ Dani bertanya pada dirinya sendiri, kedua tangannya memegang pinggiran meja kantornya. Suasana di kantor itu sangat sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 00.20. ia melepaskan dasinya dari kemejanya sambil berjalan terburu-buru kearah luar dimana ia biasa memarkirkan mobilnya.
“ Aku harus pulang. “ Hawa panas mulai menyerang tubuh Dani sehingga membuat ia harus menggulung kemeja dibagian lengannya keatas, ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi malam itu juga.
∞∞∞∞
“ Wooiii keluar dari sana!!!!” Suara-suara teriakan dari luar villa milik Cintya mulai terdengar.
“ Yang berada didalam cepat keluar!!! Kami akan membakar villa ini!!!” Cintya mendengar dengan cermat apa yang terjadi diluar villanya, ia berfikir mungkin itu suara warga desa yang ingin menyelamatkan dirinya.
“ Aku akan mengangkat Mama. Pada hitungan ketiga Mama melompat ke jendela itu dan segera keluar, sebelum warga desa membakar villa ini. “
“ Tapi Mama tidak bisa meninggalkan kamu disini.” Mama Cintya mulai bercucuran air mata.
“ Tenanglah, saya akan menyusul. “ dengan suara yang datar Cintya memeluk dan menenangkan Mamanya itu. Setelah itu dengan sisa-sisa tenaganya, ia mengangkat tubuh Mamanya untuk menggapai jendela yang agak jauh diatasnya.
“ Ayo cepat keluar, kami akan membantu kalian dari sini!!!” Teriak seluruh warga desa itu lagi. Mama Cintya berhasil dikeluarkan dari villa angker itu dibantu warga desa dari luar. Tinggalah Cintya di kamar kosong itu. Tenaganya sudah terkuras habis dan pendarahan dikepalanya belum juga berhenti.
“ Cepat keluar!!! Kami akan membakar villa ini!!!” teriak beberapa warga desa didepan villa milik Cintya itu.
BRAKKKKKK... pintu kamar kosong itu mulai terbuka dan sosok-sosok menyeramkan tadi mulai berdatangan dihadapan Cintya. villa itu semakin lama semakin panas, akhirnya Cintya tersadar bahwa warga desa sudah mulai membakar villa itu. Ia berusaha naik keatas jendela yang cukup jauh darinya dan menggapai pinggiran jendela itu, tapi dengan tenaganya yang tinggal sedikit lagi rasanya ia tidak mampu lagi untuk mengangkat tubuhnya sendiri .
“ Cintya!! keluar!!!” tiba-tiba Cintya mendengar suara Dani yang samar-samar terdengar dibalik suara berisik dari dalam villa dan suara warga desa yang mulai meneriakkan namanya. Kobaran api mulai meninggi dan hampir melahap habis pondasi villa tersebut. Cintya tetap berusaha mengangkat tubuhnya sendiri untuk menggapai jendela. Tiba-tiba kakinya dipegang kuat oleh lelaki yang seperti zombie itu.
“ Arrrgghhtt.” Cintya menjerit sambil berusaha melepaskan kakinya dari lelaki itu. Ia menendang lelaki itu sekuat tenaga dan tangannya berhasil menggapai jendela itu kemudian ia mengangkat tubuhnya untuk menaiki jendela dan segera keluar dari villa terkutuk itu. Cintya menutup matanya saat menaiki jendela itu, api mulai berkobar dan asapnya membuat Cintya sesak. Ia kemudian menjatuhkan diri dari jendela yang cukup tinggi itu untuk keluar dari villa tersebut. Tak lama kemudian
“ Cintya!!! bangun!!” samar-samar Cintya mendengar suara suaminya dari alam bawah sadarnya, ia jatuh pingsan dan sangat sulit baginya untuk membuka mata kembali.
“ Cintya!! ini Mama!!! Ayo bangun!!” kali ini Cintya mendengar suara Mamanya dan hal itu membuat semangat hidupnya kembali dan akhirnya ia tersadar dan mulai membuka mata.
“ Syukurlah. “ Cintya mendengar suara ramai orang-orang dihadapannya, ia mulai bangun dari pangkuan suaminya, dilihatnya dia sudah berada diluar villa-nya. Rereumputan basah yang tadi ia tiduri seakan-akan menyejukkan tubuhnya yang panas, dilihatnya sekeliling. Ada suami dan Mamanya didepannya dan para warga desa yang membawa obor yang masih menyala. Ia juga melihat villa-nya terbakar dan suara aneh dari villa itu belum hilang , malah semakin menjadi-jadi seperti suara orang meminta tolong, dengan tangisan yang menyayat hati. Cintya memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya didada suaminya itu.
“ Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu. Maafkan aku. “ Air mata penyesalan membasahi ujung pelupuk mata Dani, ia memeluk istrinya erat-erat seakan tidak ingin melepasnya untuk selamanya.
“ Aku akan mendengarkanmu. “ Dani melanjutkan ucapannya.
“ Sudah jangan banyak bicara. “ Cintya mulai bersuara dan mulai ikut menangis sehingga membuat kemeja suaminya itu basah.
“ Syukurlah istrimu selamat nak. “ suara lelaki memecah kesunyian malam itu yang diketahui Dani, ia adalah Pak Budi, pemilik asli villa tersebut.
“ Bagaimana Bapak tahu?. “ Dani bertanya kepada Pak Budi.
“ Entah mengapa perasaanku tidak enak saat kamu kerumahku, maka aku putuskan untuk melihat keadaan villa ini malam-malam hari dan benar saja, suara dalam villa itu sangat berisik dan bola-bola api berjatuhan diluar villa ini. lalu tak lama aku mengumpulkan warga desa untuk membantuku menyelamatkan istrimu tetapi semua pintunya telah terkunci . warga desa mengusulkan untuk membakar rumah ini , aku tidak bisa menolaknya. “
Dani menatap istrinya yang masih menangis didadanya, ia mengelus kepala istrinya yang penuh dengan darah tersebut dan menciumnya.
“ Kita akan baik-baik saja, mulai hari ini aku akan mendengarkanmu. “ Dani berbisik ditelinga Cintya dan ikut memejamkan matanya .
“ Ini yang terakhir. “ Dani berkata sekali lagi dan tetap memeluk erat istrinya.

TAMAT