Minggu, 15 Mei 2016

Novel Remaja - Home Sweet Home Part 4 END Oleh Claudia Widi A.R

Home Sweet Home
Karya : Claudia Widi A.R

Part : 4 (Four)-end
Home Sweet Home

Malam semakin larut Cintya dan Ibunya mulai tertidur dalam satu kamar setelah melihat acara di Televisi. Saat itu Cintya ingin sekali buang air kecil, ia lalu turun dari ranjangnya dan mulai meraba-raba kolong tempat tidur untuk mencari sendal yang biasa ia kenakan. Tak lama ia menuju kamar mandi yang agak jauh dari kamarnya, perasaan takut mulai menerjang seluruh tubuhnya, udara malam menerpa lehernya yang jenjang sehingga membuatnya merinding dan menutup erat-erat tubuhnya dengan jaket.
“ Ahhh. “ Keluh Cintya saat ia tahu bahwa ia harus melewati kamar pasangan suami istri aneh tersebut dan kamar kosong yang menurutnya menyeramkan.
“ Deg. “ Jantung Cintya berdegub kencang, tapi ia tidak mendapati suara dari dalam pasangan suami istri tersebut. Pintu kamar pasangan suami istri itu terbuka lebar dan tidak ada seorangpun yang Cintya dapati di dalam kamar tersebut, Cintya heran dan mulai bertanya-tanya, kemana perginya suami-istri itu malam-malam begini.
“ Kreekkk..” Cintya terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka dari kamar sebelah, ia mulai berlari dari kamar pasangan suami-istri tersebut menuju kamar mandi. Suasana didalam kamar mandi sedikit menenangkan hati Cintya, bau wangi lavender dari lilin aromateraphy yang terpasang di pojok ruangan menyebar sampai kedalam penciuman Cintya. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam tertangkap mata Cintya, ia lalu melihat kearah pintu kamar mandi yang sebagian diatas pintu itu dipasang kaca transparan sehingga ia bisa melihat kearah luar kamar mandi. Cintya tersentak kaget saat ada sebuah tangan dengan darah disekelilingnya dengan kuku yang panjang berusaha menggapai pintu kamar mandi, ia tersentak kebelakang dan ketakutan saat melihat pemandangan didepannya. Lelaki bule yang menumpang di villanya kini seakan-akan berubah menjadi zombie, pakaian safari yang biasa ia kenakan kini berubah menjadi compang-camping, wajahnya hancur dan rambutnya berantakan. Wajah lelaki itu mengeluarkan gelembung-gelembung nanah seakan-akan melepuh terkena zat kimia, matanya sudah tidak terlihat yang terlihat hanyalah sebuah lubang besar yang hitam di matanya. Tangannya yang berlumuran darah terus menggapai dan berusaha membuka pintu kamar mandi tersebut sehingga menimbulkan noda darah di kaca pintu kamar mandi yang transparan tersebut.
“ Aaaarggghhtt” Cintya menjerit sekuat tenaganya sambil memegang knop pintu kamar mandi yang terus didorong dari arah luar, ia berusaha menahan agar pintu itu tidak terbuka. Pintu kamar mandi itu terus bergoncang-goncang karena desakan dan dorongan dari luar sehingga menimbulkan suara berderit yang cukup berisik, keringat dingin mulai membasahi dagu Cintya yang masih menahan goncangan dari luar. Suara-suara seperti helaan nafas yang memburu mulai terdengar di telinga Cintya diselingi suara-suara aneh lainnya. Benda-benda disekeliling Cintya dengan tiba-tiba mulai berjatuhan seperti botol shampo, sabun mandi dan peralatan lainnya dan dengan tiba-tiba pula benda itu melayang-layang di udara. Cintya juga mendengar suara-suara aneh itu dari arah dapur, suara itu terdengar seperti ada orang yang memainkan peralatan masaknya menjatuhkan piring-piring, panci, wajan dan lain-lainnya. Cintya mulai tidak kuat lagi menahan dorongan dari luar tersebut sehingga ia melepaskan tangannya dari knop pintu dan menghempaskan tubuhnya kebelakang, tidak sengaja ia menyenggol lilin kecil aromateraphy tersebut dan jatuh terduduk. Lilin itu padam dan suasana menjadi gelap tapi ia masih bisa merasakan nafas yang memburu dari lelaki yang sudah menjadi zombie itu.
“ Apa yang kamu inginkan dariku? Kamu sudah mati!! Kamu sudah mati!!” Cintya berteriak sekencang-kencangnya sambil memejamkan mata dan menutup telinganya dengan tangan rapat-rapat. Ia berusaha bangun dan berjalan meski kekuatannya melemah, ia meraba-raba dan berhasil menemukan pintu keluar tetapi lelaki itu memegangi kaki Cintya sehingga Cintya kesulitan bergerak.
“ Lepaskan!! Mama tolong Cintya!!!. “ Cintya kembali berteriak dan mendorong tubuhnya agar kakinya segera lepas dari cengkraman lelaki itu, tarikan dari Cintya daan cengkraman yang begitu kuat membuat celana piyama miliknya sobek di bagian bawah dan betisnya terluka, terkena goresan kuku yang panjang dan tajam. Cintya berlari kearah kamarnya sambil tetap menutup telinga karena suara berisik itu dapat membuatnya gila, ditambah lagi ada suara tangisan wanita yang memilukan yang membuat bulu kuduknya merinding.
Blamm.... ditutupnya pintu kamar itu rapat-rapat.
“ Ada apa Cin?. “ Mama Cintya terbangun dan mengucek matanya.
“ Kita harus pergi dari tempat ini Ma, bagaimanapun caranya!!” Cintya terlihat panik.
“ Ya ampun, kenapa kaki kamu Cin? Bilang sama Mama ada apa ini? suara berisik apa ini Cintya!!!” Cintya tidak mempedulikan Mamanya dan masih dalam keadaan panik ia mencari-cari handphonenya. ia mulai putus asa dan menarik Mamanya keluar kamarnya.
Blammm...Cklekk.. seluruh pintu dan jendela villa itu tiba-tiba terkunci rapat dengan sendirinya. Cintya dan Mamanya yang kebingungan mencari-cari cara keluar dan melihat sekeliling ruangan. Mereka mulai berlari-lari mencari jalan keluar tetapi mereka dikejutkan oleh banyak hal, suara berisik itu terus mengganggu dan membuat telinga Cintya berdengung. Mata Cintya mulai dikejutkan oleh berbagai hal aneh dan sosok-sosok menakutkan, sosok menyeramkan yang duduk di sofa ruang keluarga dengan baju serba putih dan rambut yang panjang sedang merunduk dan sosok-sosok bayangan anak kecil berlari-lari dengan tertawa-tawa di sekelilingnya.
“ Prangg!!!” sebuah benda tumpul yang keras menghantam kepala Cintya sampai berdarah, ia pun jatuh terduduk sambil memegang kepalanya.
“ Cintya!!! Kamu nggak kenapa-napa kan nak?.” Mama Cintya mulai panik saat anaknya meringis kesakitan sambil terus memegang kepala bagian depannya yang menegeluarkan banyak darah. Cintya dengan sekuat tenaga berusaha bangun dari tempatnya dan tetap menggenggam tangan Mamanya untuk mencari jalan keluar. Cintya dan Mamanya berjalan kearah kamar kosong yang sudah lama tidak terpakai itu.
“ Aku rasa disini aman Ma. “ Cintya mencoba mendobrak pintu kamar kosong itu dan ia berhasil membukanya. Ia dan Mamanya memasuki kamar kosong itu tetapi belum sempat ia menenangkan kelelahannya, pintu kamar itu seakan-akan didorong oleh sesuatu yang kuat dari luar, nafas yang memburu itu sangat dikenali oleh Cintya. ia dan Mamanya tetap bertahan untuk menahan pintu itu.
“ Kita harus mencari jalan keluarnya Ma. “ disela-sela ketakutannya, berulangkali Cintya mendengar suara Hanphonenya berdering berkali-kali, tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu, ia juga tidak tahu handphone-nya berada dimana, yang ia fikirkan hanya keselamatan hidupnya dan Mamanya.
Braakkk..braakk..brakk.. suara pintu itu didobrak dari luar, Cintya tetap menahan pintu itu dari dalam dengan tubuhnya.
“ Ma, coba lihat itu, Mama harus mendorong lemari kayu itu untuk menahan pintu ini. sementara aku menahannya, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berlama-lama menahan beban ini. “
“ Baik. “ Mama Cintya mulai mendorong lemari tua yang usang dan berdebu itu yang ternyata cukup berat. Setelah berhasil mendorongnya kearah pintu, Cintya mulai terkapar dan kepalanya terasa pusing sekali. Cintya mencoba membuka matanya yang terkatup, ia melihat dibelakang lemari yang telah dipindahkan oleh Mamanya terdapat jendela yang cukup besar , akal sehatnya mulai bekerja.
∞∞∞∞
“ Shiittt!!!” Dani melempar handphone-nya kearah kaca jendela didepannya, sehingga kaca itu pecah menjadi puingan-puingan kecil. Perasaannya benar-benar tidak enak dan bisa dikatakan sangat buruk, ia terus memikirkan istrinya yang tak kunjung mengangkat telfonnya.
“ Ada apa ini?. “ Dani bertanya pada dirinya sendiri, kedua tangannya memegang pinggiran meja kantornya. Suasana di kantor itu sangat sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 00.20. ia melepaskan dasinya dari kemejanya sambil berjalan terburu-buru kearah luar dimana ia biasa memarkirkan mobilnya.
“ Aku harus pulang. “ Hawa panas mulai menyerang tubuh Dani sehingga membuat ia harus menggulung kemeja dibagian lengannya keatas, ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi malam itu juga.
∞∞∞∞
“ Wooiii keluar dari sana!!!!” Suara-suara teriakan dari luar villa milik Cintya mulai terdengar.
“ Yang berada didalam cepat keluar!!! Kami akan membakar villa ini!!!” Cintya mendengar dengan cermat apa yang terjadi diluar villanya, ia berfikir mungkin itu suara warga desa yang ingin menyelamatkan dirinya.
“ Aku akan mengangkat Mama. Pada hitungan ketiga Mama melompat ke jendela itu dan segera keluar, sebelum warga desa membakar villa ini. “
“ Tapi Mama tidak bisa meninggalkan kamu disini.” Mama Cintya mulai bercucuran air mata.
“ Tenanglah, saya akan menyusul. “ dengan suara yang datar Cintya memeluk dan menenangkan Mamanya itu. Setelah itu dengan sisa-sisa tenaganya, ia mengangkat tubuh Mamanya untuk menggapai jendela yang agak jauh diatasnya.
“ Ayo cepat keluar, kami akan membantu kalian dari sini!!!” Teriak seluruh warga desa itu lagi. Mama Cintya berhasil dikeluarkan dari villa angker itu dibantu warga desa dari luar. Tinggalah Cintya di kamar kosong itu. Tenaganya sudah terkuras habis dan pendarahan dikepalanya belum juga berhenti.
“ Cepat keluar!!! Kami akan membakar villa ini!!!” teriak beberapa warga desa didepan villa milik Cintya itu.
BRAKKKKKK... pintu kamar kosong itu mulai terbuka dan sosok-sosok menyeramkan tadi mulai berdatangan dihadapan Cintya. villa itu semakin lama semakin panas, akhirnya Cintya tersadar bahwa warga desa sudah mulai membakar villa itu. Ia berusaha naik keatas jendela yang cukup jauh darinya dan menggapai pinggiran jendela itu, tapi dengan tenaganya yang tinggal sedikit lagi rasanya ia tidak mampu lagi untuk mengangkat tubuhnya sendiri .
“ Cintya!! keluar!!!” tiba-tiba Cintya mendengar suara Dani yang samar-samar terdengar dibalik suara berisik dari dalam villa dan suara warga desa yang mulai meneriakkan namanya. Kobaran api mulai meninggi dan hampir melahap habis pondasi villa tersebut. Cintya tetap berusaha mengangkat tubuhnya sendiri untuk menggapai jendela. Tiba-tiba kakinya dipegang kuat oleh lelaki yang seperti zombie itu.
“ Arrrgghhtt.” Cintya menjerit sambil berusaha melepaskan kakinya dari lelaki itu. Ia menendang lelaki itu sekuat tenaga dan tangannya berhasil menggapai jendela itu kemudian ia mengangkat tubuhnya untuk menaiki jendela dan segera keluar dari villa terkutuk itu. Cintya menutup matanya saat menaiki jendela itu, api mulai berkobar dan asapnya membuat Cintya sesak. Ia kemudian menjatuhkan diri dari jendela yang cukup tinggi itu untuk keluar dari villa tersebut. Tak lama kemudian
“ Cintya!!! bangun!!” samar-samar Cintya mendengar suara suaminya dari alam bawah sadarnya, ia jatuh pingsan dan sangat sulit baginya untuk membuka mata kembali.
“ Cintya!! ini Mama!!! Ayo bangun!!” kali ini Cintya mendengar suara Mamanya dan hal itu membuat semangat hidupnya kembali dan akhirnya ia tersadar dan mulai membuka mata.
“ Syukurlah. “ Cintya mendengar suara ramai orang-orang dihadapannya, ia mulai bangun dari pangkuan suaminya, dilihatnya dia sudah berada diluar villa-nya. Rereumputan basah yang tadi ia tiduri seakan-akan menyejukkan tubuhnya yang panas, dilihatnya sekeliling. Ada suami dan Mamanya didepannya dan para warga desa yang membawa obor yang masih menyala. Ia juga melihat villa-nya terbakar dan suara aneh dari villa itu belum hilang , malah semakin menjadi-jadi seperti suara orang meminta tolong, dengan tangisan yang menyayat hati. Cintya memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya didada suaminya itu.
“ Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu. Maafkan aku. “ Air mata penyesalan membasahi ujung pelupuk mata Dani, ia memeluk istrinya erat-erat seakan tidak ingin melepasnya untuk selamanya.
“ Aku akan mendengarkanmu. “ Dani melanjutkan ucapannya.
“ Sudah jangan banyak bicara. “ Cintya mulai bersuara dan mulai ikut menangis sehingga membuat kemeja suaminya itu basah.
“ Syukurlah istrimu selamat nak. “ suara lelaki memecah kesunyian malam itu yang diketahui Dani, ia adalah Pak Budi, pemilik asli villa tersebut.
“ Bagaimana Bapak tahu?. “ Dani bertanya kepada Pak Budi.
“ Entah mengapa perasaanku tidak enak saat kamu kerumahku, maka aku putuskan untuk melihat keadaan villa ini malam-malam hari dan benar saja, suara dalam villa itu sangat berisik dan bola-bola api berjatuhan diluar villa ini. lalu tak lama aku mengumpulkan warga desa untuk membantuku menyelamatkan istrimu tetapi semua pintunya telah terkunci . warga desa mengusulkan untuk membakar rumah ini , aku tidak bisa menolaknya. “
Dani menatap istrinya yang masih menangis didadanya, ia mengelus kepala istrinya yang penuh dengan darah tersebut dan menciumnya.
“ Kita akan baik-baik saja, mulai hari ini aku akan mendengarkanmu. “ Dani berbisik ditelinga Cintya dan ikut memejamkan matanya .
“ Ini yang terakhir. “ Dani berkata sekali lagi dan tetap memeluk erat istrinya.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar