Minggu, 15 Mei 2016

Novel Remaja - Home Sweet Home Part 3 Oleh Claudia Widi A.R

Home Sweet Home
Karya : Claudia Widi A.R

Part : 3 (Three)
Home Sweet Home
 
Sebelum Dani berangkat untuk urusan kerjanya ia memutuskan untuk mencari siapa pemilik pertama villa yang ditempatinya tersebut, ia sangat penasaran dengan asal-usul rumah itu dan mengapa rumah sebesar itu dijual dengan harga miring, ia tidak memberitahu hal ini pada Cintya terlebih dahulu agar tidak membuat istrinya itu cemas.
“ Hati-hati di jalan ya sayang. “ Cintya melambaikan tangannya setelah ia mebetulkan dasi di kerah baju suaminya itu, Cintya menatap kepergian suaminya dengan perasaan yang tidak biasa. Setiap harinya ia melihat suaminya begitu tampan dengan kemeja kantoran yang lengannya digulung keatas dan dasi yang serasi dengan warna baju suaminya tersebut. Tapi bukan itu yang kini dipikirkan Cintya, melainkan ada hal lain yang tidak dapat ia jelaskan.
setelah berpamitan pada kistrinya, Dani bergegas pergi ke sebuah perumahan warga di desa kecil di samping villanya itu, ia menanyakan kepada beberapa warga yang sedang duduk-duduk di warung tentang siapa pemilik pertama villanya tersebut.
“ Permisi Pak, boleh saya bertanya sebentar?. “ Dilihatnya beberapa pasang mata menatap aneh kearah Dani.
“ Emm, Bapak tau tidak siapa orang yang mendirikan villa di area hutan disamping desa ini?.” Dani bertanya lagi kepada Bapak-bapak yang duduk sambil bermain catur di warung kecil tersebut.
“ Ooh, pemilik pertamanya namanya Pak Budi, tuh, tinggalnya dekat dengan mushola yang pagarnya warna hijau mas.” Jawab salah seorang dari Bapak-bapak yang mengenakan peci itu.
“ Oh terimakasih mas, saya pamit dulu, maaf mengganggu. “ Dani mengangkat telapak tangan kanannya seraya memberi salam kepada para warga tersebut.
“ Yuk, mari mas. “ Kata Bapak yang memakai peci itu, diiringi dengan tatapan aneh para pria lainnya.
Kemudian tanpa membuang waktu lagi Dani menuju rumah Pak Budi yang diketahuinya sebagai pemilik pertama villa itu.
“ Selamat sore. “ Sapa Dani kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman rumahnya yang penuh dengan daun pohon mangga yang berguguran. Wanita itu menghentikan pekerjaannya dan mengurai senyum kepada Dani.
“ Ooh iya, selamat sore, maaf cari siapa ya?. “ Tanya wanita itu sambil meletakkan sapu lidinya ditanah.
“ Apa benar ini rumah Pak Budi? Yang membuat villa di area hutan itu?. “
Seketika wajah wanita itu berubah menjadi pucat pasi, peluh menetes di rahangnya.
“ i-iya benar, ini rumah Pak Budi. Ada perlu apa ya dengan suami saya?.”
“ Maaf Bu, saya tidak punya banyak waktu, saya harus bicara sebentar dengan Pak Budi perihal villa itu. “
“ Ooh, kalau begitu mari masuk, nak. “
Dipersilahkannya Dani masuk kedalam rumah yang tidak terlalu besar itu, rumah dengan cat warna hijau dan lantai berwarna putih susu, di depannya ada pohon mangga yang tumbuh kokoh, sehingga rumah itu nampak rindang, semula Dani nampak ragu atas rumah yang dilihatnya sangat bertolak belakang dengan villa yang begitu megah dan nampak sangat klasik itu. Kemudian Dani duduk di sofa berwarna merah hati itu, ia melihat sekeliling ruangan ketika tiba-tiba Ibu-ibu tadi mengejutkannya.
“ Pak, ini ada yang mau ketemu sama Bapak. “ Di pegangnya lengan lelaki tua yang memakai kemeja kotak-kotak putih dan sedikit botak, ia nampak kebingungan. Sambil berjalan kearah Dani, pria tua itu tampak ketakutan dan depresi, pandangannya kosong dan tak terarah.
“ Saya buatkan minum dulu ya.” Ibu itu tersenyum kearah Dani dan dibalas juga dengan senyuman hangat dari Dani. Ketika Ibu tadi sudah menghilang dibalik tirai biru tua, Dani mulai menanyai perihal villa tersebut kepada Bapak yang ada di depannya.
“ Apakah benar Bapak yang telah membuat rancangan villa yang saya tempati ini?. “Tanpa basa-basi Dani bertanya sambil menatap dalam-dalam mata Pak Budi tapi yang yang ditanyai malah diaam saja, seperti orangyang sedang kebingungan.
“ Bapak mendengar saya tidak? Apakah Bapak tahu tentang apa yang terjadi dengan villa itu?. “
Pak Budi tetap diam saja tanpa menggubris omongan Dani, Dani mulai merasa khawatir, dalam benaknya ia beranggapan bahwa orang ini sudah gila.
“ Apakah Bapak tahu tentang sedikit hal di dalam villa tersebut? Saya mohon jawab pertanyaan saya, saya minta bantuan Bapak kali ini. “ Dani mulai nampak putus asa.
“ Yasudah jika Bapak tidak mau menjawab pertanyaan saya, lebih saya pergi. “ ia mulai emosi dan tidak bisa mengendalikannya, saat Dani hendak beranjak dari tempat duduknya, Bapak itupun memegang tangan pemuda itu dengan kuat.
“ Tunggu dulu nak, duduklah!” Kemudian Dani duduk kembali atas perintah Pak Budi.
“ Saya pasti mengetahui semua hal tentang villa itu, karena saya dulu adalah seorang arsitek handal yang merancang bangunan villa itu.” Lelaki itu menghembuskan nafasnya dan mulai kembali bercerita.
“ Dulu saya adalah seorang arsitek yang merancang rumah-rumah mewah dan megah milik artis ataupun pejabat-pejabat terpandang di Ibukota, tetapi dipuncak keberhasilan saya, saya ingin sekali memiliki ketenangan dan kedamaian, maka saya putuskan untuk pindah ke daerah ini agar jauh dari hiruk-pikuk kota dan saya putuskan juga untuk membangun villa hasil karya saya sendiri. “
Dani mendengarkan Pak Budi dengan serius dan tak memalingkan tatapannya dari mata lelaki tua itu.
“ Tetapi pada waktu itu saya tidak punya lahan untuk membangun rumah maka saya membeli separuh lahan di area hutan tersebut dari pemda setempat. Para warga desa menggunakan lahan itu untuk pemakaman, tetapi karena saya sudah menyukai tempat itu maka saya putuskan agar tanah pemakaman itu diratakan oleh tanah dan saya membangun villa diatasnya, awalnya para warga tidak setuju dan hendak membakar villa tersebut tetapi apa boleh buat, surat kepemilikan lahan sudah berada ditangan saya. Tetapi setelah cukup lama tinggal disana dengan istri saya, saya merasa depresi akan kejadian-kejadian aneh di villa itu, makadari itu saya putuskan untuk menjual villa itu pada wisatawan asing dan istrinya itu.”
“ Kejadian aneh seperti apa yang Bapak alami.? “ Dani bertanya lagi. Kali ini lebih intim.
“ Ya seperti piring-piring berterbangan, peralatan dapur jatuh berserakan, muncul noda-noda darah di dinding, suara-suara tangisan memilukan dan sebagainya. Tapi asal kamu tahu tentang rahasia tempat itu, bahwa siapapun lelaki yang melihat villa itu pasti akan langsung menyukainya dan tertarik membelinya, villa itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang-orang tertentu, tapi tidak bagi wanita.”
“ Maksud Bapak?.”
“ Hmm, contohnya lelaki bule itu, ia sangat tertarik sekali dengan villa itu, dan membelinya dengan harga mahal, tetapi tidak dengan istrinya, istrinya malah menganggap villa itu gelap dan menyeramkan. Jadi intinya villa itu akan nampak indah dimata orang-orang tertentu yang dipilihnya.”
Deg.. sontak jantung Dani berdetak sangat cepat dari ritme biasanya, ia teringat akan keinginannya untuk membeli villa itu tetapi dilarang oleh istrinya, peluh mulai menetes di kening Dani, ketika Ibu-ibu datang membawa nampak berisi minuman.
“ Lalu apa yang terjadi dengan pasangan suami-istri tersebut Pak?. “ Dani bertanya kembali.
“ Saya tidak tahu banyak, yang saya tahu dari warga desa bahwa lelaki bule itu ditinggal pergi oleh istrinya dan setahun kemudian ia meninggal di kamar mandi villa itu nak.” Pak Budi tidak berani menatap wajah Dani yang harap-harap cemas, ia hanya terdiam sambil kedua tangannya berpagut saling memegangi jemari masing-masing.
“ Maaf lama nak, Ibu tadi malah lupa mau membuatkan kamu minum haha, maaf nak. “ Ibu itu tertawa sambil meletakkan secangkir kopi di depan Dani. Kemudian Dani langsung meminumnya dan berpamitan untuk pergi dari rumah Pak Budi itu.
∞∞∞∞
Suara musik dari dalam mobil Dani, tak bisa menghilangkan konsentrasinya pada kejadian tadi mengenai villa miliknya. Dani dengan sedikit tegang mengendorkan dasi di lehernya sedangkan tangan kanannya tetap memegang kemudi setir, di lihatnya jalan raya yang penuh dengan lalu lalang mobil dari berbagai arah, terasa sangat panas di dalam mobilnya hingga ia harus menghidupkan AC dan menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan. Ia masih belum bisa melupakan kata demi kata yang diingatnya.
“ Cintya!!!” Panggil seorang wanita paruh baya, tergopoh-gopoh sambil membawa koper kedalam villa milik Cintya.
“ Mama!!” Cintya berlari kecil kearah wanita paruh baya yang ternyata adalah Mama-nya itu.
“ Mama kapan kesini?. “
“ Kemarin sore Mama berangkat, soalnya Mama dapat telfon dari Dani, dia menyuruh Mama untuk menemani kamu disini selama dia kerja. “
“ Mama pasti capek, aku akan buatkan Mama teh. “ Cintya mengangkat koper yang berisi pakaian milik Mama-nya tersebut kedalam villanya.
“ Bu, ini kunci mobilnya. “ Kata seorang supir memberikan kunci mobil pada Mama Cintya.
“ Oh iya, saya lupa, terimakasih Pak No. “
“ Sama-sama Bu. “
Kemudian Cintya dan Ibunya memasuki ruang keluarga di villa yang berukuran besar itu.
“ Besar juga Cin. “
“ Iya sih Ma. “
“ Tapi masalahnya kenapa villa sebagus ini ada di area hutan?. “ Mama Cintya menatap putrinya dengan tatapan tajam seolah-olah ingin tahu apa rahasia yang tersimpan dari villa ini. Cintya menghela nafas panjang dan mulai bercerita tentang keadaan villa-nya dan kemauan keras suaminya untuk tetap membeli villa ini.
“ Suami-mu memang keras kepala. “ Ibu Cintya meneguk secangkir teh yang diberikan putri semata wayangnya itu sambil menyandarkan bahunya di sofa.
∞∞∞∞
Hujan deras mulai menggenangi seluruh pelosok kota, Dani menatap tetesan hujan yang mengalir dari jendela ruangan-nya, otaknya tidak mampu lagi berfikir secara jernih. Ia terus saja memikirkan keadaan istri tercintanya di rumah. Ia tidak dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaannya sehingga ia memutuskan untuk menelfon istrinya di rumah.
“ Halo Dan...ada apa?. “ Suara Cintya memecah keheningan di dalam ruangan Dani.
“ Kok sepi?. “ Cintya mulai bersuara kembali.
“ Nggak apa-apa kok sayang, aku Cumaaa emmm.. aku Cuma...”
“ Cuma apa Dan? Aku tutup ya?. “
“ Ehh, jangan!! Aku Cuma sedikit khawatir sama kamu. “ Dani membelalakkan matanya saat apa yang dia ucapkan malah ditertawakan oleh Cintya.
“ Hahaha, sudah dulu ya.”
Tittt...titt..titt.. sambungan telefon mulai terputus. Dani menatap handphone-nya dengan heran, baru kali ini dia mendapati istrinya yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit cuek dengannya dan baru kali ini ia mendapati istrinya memanggil namanya dengan sebutan “ Dan “. Tak lama kemudian Dani menelfon istrinya itu sekali lagi dan Cintya mengangkat telfonnya.
“ Halo?. “
“ Cin? Cintya?.”
“ Ada apa sayang?.” Suara lembut Cintya seakan membuat hati Dani tenang.
“ Kenapa tadi kamu matikan telfonku?. “ Tiba-tiba Dani teringat hal tadi dan langsung menanyakannya pada Cintya.
“ Telfon apa? Kamu kan baru aja telfon. “ Jawab Cintya datar.
“ Tadi aku telfon.. ahh sudahlah lupakan, kamu sedang ada di rumah kan?. “
“ Ya. “
“ Sama Mama? Mama sudah datang kan?. “
“ Iya sayang, kamu nggak perlu khawatir.” Senyum Cintya mengembang ketika mendengar suara suaminya yang sedikit panik itu.
“ Heuuhh, aku akan pulang lusa. Tunggu ya.”
“ Oke. Bye. “
“ Bye. “
Dani meletakkan handphonenya diatas meja kerjanya dan mengambil sebuah foto yang dibingkai dengan indah. Foto Cintya terpampang dalam bingkai foto yang dipegang Dani, entah mengapa ia merasa ada suatu hal buruk yang akan terjadi dan ia menyesal tidak bisa melindungi istrinya saat ini.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar