Home Sweet Home
Karya : Claudia Widi A.RPart : 1 (one)
Home Sweet Home
Setiap orang selalu ingin mempunyai rumah idaman mereka masing-masing, rumah yang nyaman,tenang dan damai, jauh dari hiruk pikuk kota yang membosankan. Sama halnya dengan pasangan suami istri yang baru saja menikah ini sebut saja namanya Dani dan Cintya. Setelah sebulan sejak pernikahan mereka, mereka ingin membeli rumah yang jauh dari kota tempat mereka tinggal, mereka juga tidak ingin berlama-lama menumpang dirumah orang tua Cintya, dengan alasan mereka ingin hidup mandiri.
“ Hmm. “ Dani menghela nafas panjang, sambil menyenderkan tubuhnya di kursi kekuasaannya. Ia berfikir rumah seperti apa yang akan ia beli dan akan ia tempati bersama istrinya tersebut. Tiba-tiba lamunan akan rumah barunya tersebut pecah akibat panggilan dari seseorang.
“ Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?. “ Kata seseorang mengagetkan lamunan Dani, ia masuk dari balik pintu.
“ Oh, Siska! Saya sampai kaget. Lain kali ketuk pintu dulu sebelum memasuki ruangan saya. “
“ Maaf Pak Manager, saya mohon maaf atas kelancangan saya yang dengan tiba-tiba masuk mengagetkan anda. Sekali lagi saya minta maaf. “
“ Oke, kamu saya maafkan. Saya hanya sedikit mengantuk, jadi bisa tidak kamu membantu saya membuatkan seecangkir kopi dan membawa makanan ringan. Maaf saya menyuruh kamu bukannya office girl. “
“ Ohh tidak apa-apa Pak Dani, memang sudah tugas saya sebagai sekretaris bapak yang mengharuskan saya membantu anda. “ Siska tersenyum kearah Dani, wajah cantiknya yang sendu sejenak menghapuskan kegelisahan dalam benak Dani.
“ Astaga!!. “ Dani terkejut sambil menepuk pipinya sendiri.
“ Ada apa Pak?. “ Siska bertanya sambil keheranan.
“ Tidak apa-apa, saya hanya teringat istri saya di rumah. “ Jawab Dani sambil tertawa.
“ Baik, kamu boleh pergi!. “ Dani menunjuk ke pintu menyuruh Siska agar segera melakukan pekerjaannya.
Siska pun keluar dari ruangan Dani, dan menuju kearah pantry tempat ia biasa membuat kopi untuk bosnya. Dani hanya membolak-balikk
“ Halo!. “
“ Halo, sayang?. “
“ Ada apa?. “
“ Kamu kapan pulang?. “
“ Mungkin nanti malam, jadi nggak usah ditungguin ya. “
“ Hmmm, kamu udah dapat info tentang rumah yang mau kita beli nggak?. “
“ Belum. “
“ Hmm. “
“ Nanti aku cari info deh, pokoknya kamu tenang aja ya, sayangkuuu. “
“ Janji?. “
“ I’m promise. “
“ Yaudah, bye. “
Cintya menutup telfonnya. Dengan lesu Dani memandang telfon yang sambungannya sudah terputus itu, sebenarnya dalam hatinya ia ingin sekali cepat-cepat pindah dari rumah mertuanya itu, tapi sampai saat ini ia belum menemukan rumah yang pas untuk ia beli. Dani memandang jam dinding yang tergantung di sudut ruangan dekat dengan ranjang yang berisi stick golfnya.
“ Kenapa Siska lama sekali. “ Dani mulai resah menunggu sekretarisnya itu, kemudian tak lama ia menyusul Siska ke pantry tapi tidak seorangpun ia temui disana. Dani melihat sekeliling dapur, tidak ada bekas orang yang membuat kopi disini, yang ada hanya bungkus mie goreng diatas kompor gas, dan kertas brosur usang yang sudah lengket terkena susu kental manis. Lalu ia mengambil brosur itu dan mulai membaca isinya, disitu tertulis dijual sebuah villa dengan harga murah dan letaknya jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari kemacetan dan terletak di dekat desa yang asri. Dani membaca brosur itu dengan seksama memperhatikan gambarnya, dan melihat ukuran villa itu yang cukup besar, di tambah lagi dengan adanya danau buatan di depan villa itu yang menambah suasana nature di tempat itu. Nampaknya ia mulai menyukai villa tersebut, dan tertarik ingin membelinya.
∞∞∞∞∞∞∞
“ Ting Tong!!!. “
“ Ya, sebentar!. “ Cintya mengambil jaketnya dan berlari-lari kecil kearah pintu. Ia memutar knop dan membuka pintu rumahnya itu, didapatinya senyum suaminya dari ambang pintu. Cintya membalas senyuman suaminya dengan senyuman pula. Dani memang mahir mengubah suasana hati wanita yang disayanginya itu, ia dapat membuat Cintya bahagia di waktu-waktu yang tidak dapat di tebak oleh Cintya.
“ Kamu lebih cocok jadi artis daripada pengusaha muda. “ Cintya mempersilahkan suaminya itu masuk sambil tetap tersenyum menggoda Dani.
“ Kamu tau, aku sudah mengundurkan diri dari dunia keartisan, akan lebih baik mengurus perusahaan milik papa dan sudah kewajibanku sebagai pewaris tunggal perusahaan tersebut. “
“ Ehmm, wajahmu memang sangat cocok bila kau tetap menjadi artis. Tapi mau bagaimanapun dirimu aku tetap menyukaimu sebagai DANI yaitu suamiku. “ Cintya makin melebarkan senyumannya sambil melepas Blazzer yang dikenakan suaminya itu.
“ Kenapa kamu mau menikah denganku?. “ tanya Cintya lagi.
“ Pertanyaan bodoh, mungkin karena aku mencintaimu dan aku tidak tau alasannya. “ Dani menghempaskan tubuhnya di sofa, dilihatnya istrinya sedang membuatkan teh untuknya. Kemudian ia menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang, Dani tidak tau entah mengapa ia sangat merindukan istrinya tersebut dan dalam kesehariannya ia tidak dapat melepas wajah Cintya dari benaknya.
“ Aku rasa, aku sudah menemukan rumah yang cocok untuk kita. “ Kata Dani dengan tetap memeluk Cintya. Cintya berhenti mengaduk teh untuk suaminya itu dan menoleh kearah Dani.
“ Iya gitu?. “ Matanya begitu berbinar-binar mendengar ucapan suaminya itu.
“ Ya, coba kamu lihat ini. “ Dani mengeluarkan secarik kertas brosur tadi dari dalam saku celananya dan menunjukkannya pada Cintya. Cintya memperhatikan dengan seksama isi dari brosur yang menjual villa besar dengan harga murah itu.
“ Mungkin kita hanya perlu sedikit renovasi. “ Senyum Dani menghiasi wajah tampannya, ia berusaha meyakinkan istrinya untuk tetap membeli villa yang dirasa sudah pas untuknya. Cintya mengerutkan dahinya, raut wajah kurang puas tergambar di wajahnya.
“ Tapi meskipun villa ini di jual dengan harga murah, aku tidak terlalu menyukai letaknya yang tidak strategis, kenapa villa ini mesti di bangun di hutan?. “
“ Villa ini meskipun di bangun di area hutan tapi dekat dengan perumahan warga desa sayang. “ Dani masih berusaha membujuk Cintya agar ia menyetujui untuk membeli villa itu.
“ Kamu kerasukan apa sih, jelas-jelas letaknya yang tidak strategis, masa kamu mau beli villa untuk kita di area hutan sih!!. “ suara Cintya terdengar meninggi, tapi yang dituju masih tidak bergeming untuk memikirkan keputusannya. Dani tetap pada pendiriannya, ia tetap akan membeli villa itu dan mau tidak mau mereka harus pindah secepatnya.
“ Pikirkan dulu baik-baik semua keputusanmu, aku tau kamu tidak mau merepotkan orangtuaku dengan tetap menumpang di rumah mereka, tapi aku mohon cari rumah yang lain yang dekat dengan keluargaku dan keluargamu, carilah rumah yang layak untuk kita tinggali. “ Cintya menggenggam jemari tangan suaminya itu dengan harapan suaminya mau membatalkan rencana untuk membeli villa itu.
“ Tidak sayang, aku sudah terlanjur suka dengan villa ini, meski letaknya di luar kota, aku janji akan tetap membawamu berkunjung ke rumah orangtuamu disini. “ Dani melepas genggaman tangan Cintya dan beranjak menuju kamar mandi, Cintya hanya termenung mendengar keputusan suaminya itu. Meskipun ia sangat menyayangi suaminya tapi Cintya heran mengapa kali ini suaminya begitu keras kepala tidak seperti biasanya, terkadang suaminya yang selalu mengalah terhadap keputusan Cintya, tapi tidak untuk kali ini, Dani tetap bersikukuh ingin membeli villa itu.
Bersambung